Kamis, 07 Mei 2015

Orion

Bagaimana jika mulai hari ini aku memberikan sebuah nama bintang padamu.
Untuk melepas kesunyianmu yang cuma pura-pura bahagia.
Hiburanmu satu-satunya cuma memandang malam, bukan?
Ya, akupun tau bagaimana rasanya menjadi kamu.
Sebab aku sendiripun begitu.
Hanya menjadi bayang-bayang.




Bu?

Bu, aku rindu pada rumah kita di tepi sungai.
Tempat aku menyambut setiap perahu yang lewat, mana tahu ada Ayah di sana.
Bu, mengapa aku terlalu dekat dengan kehilangan?
Mengapa sejak kecil aku selalu kehilangan orang-orang yang aku cintai?
Apa aku dirancang untuk selalu terluka?
Bu, cukup sudah aku menangis waktu kecil karena rindu dengan Ayah yang tak akan pulang.
Harusnya aku sudah biasa ya, Bu?
Tapi mengapa aku masih saja menangis karena kehilangan.
Katamu setan masuk sebab ketakutan kita sendiri.
Apa aku menangis karena aku kemasukan setan? Sebab aku memang merasa takut.
Kehilangan lagi dan lagi.



Senin, 09 Maret 2015

Cerita Bersambung: Puisi (Bagian Pertama)

“Aku tidak bisa bikin puisi.” Ia Cuma senyum-senyum sendiri. Kilat matanya berbaur dengan harum hujan sore. Hujan membawa matanya menjadi spektrum pelangi. Cantiknya. Ia hanya tersipu malu-malu, setiap dipuji.
Gadis bernama Puisi, dengan mata samudra, bibir mawar dan hati seperti es serut. Tetap saja manis walaupun dinginnya membuat ngilu. Tetap saja ada yang nekat mengajaknya bicara walau sudah  tau pasti tak akan ditanggapi. Ia adalah puisi yang paling puisi, puisi paling nyata di dunia. Maka ia selalu menjadi pusat perhatian, ia serupa magnet alam atau spiral yang membuatmu mabuk kepayang, terhipnotis masuk ke dalamnya berputar-putar tak sadar diri, atau mungkin ialah gravitasi alam ini. Medan dari segala aktivitas pria, matanya memang memabukkan.
Gadis itu bernama Puisi. Agak panjang jika harus diceritakan bagaimana orang tuanya memberikan nama itu kepada anak semata wayangnya. Ibunya meninggal ketika ia berusia lima tahun, ia dibesarkan oleh ayahnya seorang diri. Ayah Puisi sangat mencintai istrinya, setiap malam ayah Puisi membuatkan Puisi untuk istinya. Sampai Puisi beranjak dewasa, bagi ayahnya Puisi dan almarhumah istrunya adalah puisi yang paling puitis, magnet dari segala karya seni yang indah. Puisi paling nyata, tempat ia curahkan segala cintanya.
Bertahun-tahun setelah  kematian ibunya, Puisi tak pernah ingin membaca tulisan ayahnya. Membaca puisi yang ia ciptakan hanya untuk dia dan istrinya. Puisi tak pernah sanggup, melihat tulisan ayahnya yang selalu diselimuti oleh cinta yang mendalam. Ia tak pernah ingin menulis puisi seperti ayahnya, ia membenci pelajaran bahasa Indonesia saat sekolah.
“Ayah.. Sudah bangun?” Ia mengecup kening ayahnya. Guratan halus di wajah ayah tak mampu lagi membohongi siapapun bahwa ia lelah dengan dengan hidupnya. Semua orang tau pasti bahwa satu-satunya alasan ayah bertahan hidup adalah Puisi.
Ayah mengerjapkan mata, “Sudah, Puisi. Sudah sarapan?”
Puisi menggeleng, lalu bersandar pada dada ayahnya. Rasanya rumah itu terlalu sepi untuk ditinggali, jauh dari rumah penduduk dan dikelilingi oleh kebun dan perternakan warisan dari ibu yang masih terus dirawat oleh ayah, tak pernah kurang seinchi pun tanah yang dulu mereka beli dengan keringat dan air mata. Dari sanalah mereka dapat hidup, karena ayah hanya diam di sekitar rumah menulis puisi yang tak pernah ia kirimkan kemanapun. Ia kumpulkan semua puisinya ia jilid sendiri dengan karton atau kardus yang dilapisi dengan kertas warna-warni dan dijahit dengan benang kasur.
Aktivitas ayah tak pernah berubah selalu begitu setiap hari, bangun tidur ketika matahari sudah tinggi, mandi, sarapan, mengecek kebun dan peternakan, pulang, makan siang, tidur siang, bangun sore, mandi, menonton televisi, makan malam, menulis puisi lalu tidur. Begitu terus setiap hari, ayah tak pernah bosan.
“Ayo kita sarapan. Kamu mau ayah buatkan apa?”
“Telur dadar dan nasi goreng.” Puisi menandang wajah ayahnya. Mata ayahnya selalu teduh dan tak pernah layu walaupun ayah sedang sakit atau kelelahan.
“Oke. Mari kita buat.”
Pagi itu sarapan mereka di temani oleh Mozart, musik paling lembut dan memanjakan dari berabad yang lalu. Makan dengan keadaan seperti itu membuat mereka selalu merasa bahwa mereka dekat dengan alam, dengan mendiang ibu yang selalu mencintai musik itu. Karena kata ibu, musik mozart selalu membawanya pada kota Vienna yang indah dan damai yang selalu ingin ibu kunjungi.
***
“Namamu Puisi, tapi kok gak bisa bikin puisi? Padahal kamu juga kuliah sastra kenapa gak bisa?” Asoka teman baik Puisi, tak pernah bosan bertanya perihal Puisi yang tak bisa  membuat puisi. Tapi, tak pernah sekalipun Puisi menggubris Asoka. Puisi tetap diam dalam hening dan dinginnya.
“Asoka, kita makan siang yuk.”
“Bete deh kalo kamu udah begitu. Ngeselin banget.” Asoka mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Puisi.
“Asoka tau gak kenapa langit berwarna biru? Dari sekian banyak warna di dunia ini kenapa harus warna biru yang dipilih langit? Lalu, kenapa alam memlilih warna itu untuk setiap benda yang ada di jagad raya atau sebenarnya bendalah yang memilih warna untuk alam semesta? Kenapa kita berbeda, kita sama-sama manusia. Tapi, aku dilahirkan sebagai puisi dan kamu sebagai Asoka. Kamu pernah berpikir gak kalo misalnya, ayah dan ibu aku gak nikah maka gak akan ada aku, jadi kemana aku seharusnya kalo misalnya ibuku menikah dengan ayahmu dan ibumu menikah dengan orang lain. Bagaimana? Akan ada dimana kita, apa hidup kita akan sama. Apa kita bisa berbincang seperti sekarang, apa rupaku akan sama seperti saat ini jika ibuku menikah dengan ayahmu? Apa kepribadianku juga akan sama?”
“Asoka. Kamu ngerti gak tentang waktu? Apa sih waktu itu? Apa bedanya kita jalan ke kantin sekarang dengan lima menit lagi atau 5 menit yang lalu? Ketika kita memilih untuk jalan sekarang bagaimana dengan kejadian yang seharusnya kita alami jika kita berangkat menit yang lalu atau lima menit kemudian. Apakah kejadian itu akan tertunda namun akan kita alami beberapa waktu kemudian? Lalu kita akan heboh soal de javu atau kejadian lima menit yang lalu yang seharusnya kita alami akan diambil oleh orang lain yang memilih opsi tersebut sehingga kita terhindar dari kejadian tersebut tetapi kita yang memilih saat ini mengalami kejadian yang tak dipilih oleh orang yang memilih opsi lima menit yang lalu dan lima kemudian. Jadi, kita memilih opsi ini dan kita mengalami kejadian ini saat aku menanyakan beberapa pertanyaan yang mungkin akan membuatmu gila? Bagaimana Asoka menurutmu?”
“Aku ingin muntah, Puisi. Permisi.”

Lagi-lagi Puisi merasa tak ada yang mengerti isi kepalanya, tak ada yang memahami apa yang selalu ingin ia ketahui. Ia merasa sendiri dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Memang tak ada yang mengerti. 

(Bersambung....)

Jumat, 20 Februari 2015

Pesan

Sssttt... Hei tenanglah. Adanya yang diam-diam mencintaimu dalam doa. Menjadikanmu puisi setiap harinya.
Tenanglah, ada yang menjadikanmu mimpinya.
Membayangkan wajahmu setiap sebelum ia tertidur.
Tak perlu menangis hanya karena wanita yang kamu cintai.
Karena ia pun sama, hampir menangis hanya karenamu.
Hanya saja ia terus berusaha menahan tangisnya hanya karena sebuah keyakinan.
"Suatu saat nanti, akan ada laki-laki yang memperlakukanmu seperti ratu."
"Laki-laki itu akan menjadikan penolong gundahmu, ia akan selalu berjalan disisimu."
"Menarikmu ketika kamu sulit untuk menanjak, dan kamu akan mendorongnya untuk sampai ke atas lebih dulu."
"Tak perlu menangis hanya karena ia yang tak mencintaimu, kamu boleh terus mencintainya. Tapi jangan pernah paksa ia untuk mencintaimu. Kamu boleh terus memncintainya seumur hidupmu. Tapi, jangan lupa untuk mencintai dirimu sendiri. Di luar sana ada banyak orang yang diam-diam mencintaimu dalam doa."
Begitu ia terus berkata pada cermin.

Kamu juga ya, tak perlu berlari untuk melupakan, ia yang kamu cintai saat ini.
Wanita yang mencintaimu saat ini masih bisa menunggu.
Waktunya masih panjang, tenanglah.
Kalau ia tak bisa lagi menunggumu karena seseorang.
Ingatlah, pesannya.
""Suatu saat nanti, akan ada wanita yang memperlakukanmu seperti raja."
"Wanita itu akan menjadikan penolong gundahmu, ia akan selalu berjalan disisimu."
"Kamu akan menariknya ketika ia sulit untuk menanjak, dan ia akan mendorongmu untuk sampai ke atas lebih dulu."
"Tak perlu menangis hanya karena ia yang tak mencintaimu, kamu boleh terus mencintainya. Tapi jangan pernah paksa ia untuk mencintaimu. Kamu boleh terus memncintainya seumur hidupmu. Tapi, jangan lupa untuk mencintai dirimu sendiri. Di luar sana ada banyak orang yang diam-diam mencintaimu dalam doa."
Begitu kamu terus berkata pada cermin.

Kamis, 19 Februari 2015

Curhat Hari Ini: 20 Februari 2015

Sudah berkali-kali aku membenahi mataku. Mengelap air yang terus menerus-menerus keluar dari hidungku. Aku menahan tangis. Betapa menyesakkannya ini. Aku terus berusaha menahan airmataku tetap berada disana. Ini di kantor, jangan menangis!! Aku memekik dalam hati. Tak tahu harus bagaimana. Akhirnya aku memilih pindah di meja belakang, tempat biasanya temanku bekerja. Kebetulan hari ini ia tidak masuk bekerja.

Statusku hanya karyawan magang di sini, selepas hari raya imlek kemarin kantor terasa sepi. Karena hanya beberapa orang saja yang masuk bekerja. Ini sungguh menguntungkan. Aku bebas melakukan apa saja, tapi aku tak bisa menangis disini. Ini sungguh sebuah penyiksaan luar biasa. Bagaimana tidak? Aku dihancurkan oleh 3 orang paling berarti dalam hidupku. Namun aku tak boleh menangis karena mereka, dan yang paling penting aku tak boleh menangis di kantor.

Pekerjaanku hampir selesai, namun jam pulang kantor masih beberapa jam lagi. Iseng-iseng aku nonton film di youtube, selesai nonton film aku iseng stalking akun seseorang. Ahhh.. Itulah penyesalanku yang paling dalam, yang menyebabkan aku ingin menangis seharian. Air mataku tak kuat lagi bertahan, setetes, dua tetes dan terus menetes, namun segera aku hentikan sebelum orang lain melihatku menangis. "Ah, aku cuma kelilipan." dan mungkin mereka hanya ber-oh ria.

Mengapa rasanya begitu menyesakkan Tuhan. Baru kali ini lagi aku menangis hanya karena seorang lelaki, dan dua lagi aku tujukan pada teman-teman yang mengkhianatiku. Baru kemarin rasanya aku dikhianati oleh temanku sendiri. Hari ini aku merasakan lagi rasanya dihancurkan sekali jadi oleh laki-laki yang aku cintai hampir setahun ini. 

Aku mengatakan cemburu dalam hatiku. Aku mengatakan harus ikhlas, tapi aku tak mengerti bagaimana bentuk keikhlasan. Bagaimana rasanya menjadi ikhlas. Aku tak tahu harus apa lagi. Tapi, hatiku menjerit. 

Kalau aku bentuk ikhlas itu adalah pilihan apakah aku memilih dikhianati oleh temanku atau dihancurkan oleh lelaki yang membuatku jatuh cinta. Maka aku lebih ikhlas ditinggalkan oleh laki-laki yang aku cintai. Itulah bentuk rasa ikhlasku.

Kamis, 25 Desember 2014

Pengagum Rahasia?! Hmm..

Seharusnya dunia ini begitu indah.
Seharusnya hidupku ini penuh bermakna.
Takkan gundah jiwaku bila kau bersamaku.
Takkan perih batinku ini, bila kaupun milikku.
Seharusnya dunia ini.
Milik kita berdua.
Aku teringat akan lirik lagu itu, ketika tanpa sengaja aku menyenandungkannya sambil terus mengetik lembar demi lembar sepersi. Dulu lirik lagu itu pernah dituliskan seseorang untukku, aku menemukannya di lembar buku catatanku. Entah siapa yang menyelipkannya di sana. Aku tak pernah tahu sampai hari ini.
Harus aku sebut apa orang yang menyelipkan lirik lagu itun di sana. Apa harus aku sebut sebagai pengagum rahasiaku? Hehehe. Kepedean ya?! 6 tahun berlalu, setelah aku menemukan lembaran lirik lagu itu. Aku masih belum mengetahui siapa dia. Mungkin ia telah lupa denganku. Kadang aku suka berandai, seandainya aku tahu siapa pengagum rahasiaku itu. Aku harus bertindak apa? Aku harus berekspresi bagaimana? Tiba-tiba aku menggila.
Tapi saat aku kelas 9 SMP, aku pernah mendapat kiriman coklat dari seseorang. Sayangnya beberapa bulan sebelum kami lulus. Aku mengetahui siapa orang yang mengirimiku coklat di hari valentine. Katanya ia mengagumiku sejak kami kelas 7 dulu. Ia sering diam-diam menatapiku saat di kantin. Diam-diam mencuri pandang saat kami baris sejajar saat upacara. Dia hapal semua rutinitasku, ia tahu bahwa aku dulu pernah memenangkan lomba melukis. Dia tahu bahwa aku sangat suka menyanyi namun selalu gugup jika bernyanyi di depan orang lain. Dia sering mengunjungi kelasku dengan alasan ingin mengajak temannya makan bersama. Tanpa sedikitpun aku tahu dan merasa bahwa dia diam-diam memperhatikanku.
Barulah saat kelas 9 kami dipertemukan dalam kelas yang sama. Ia buru-buru menempati kursi di depanku. Agar bisa mengajakku bicara. Namun sayangnya, wali kelas kami menyuruhnya pindah ke barisan lain. Karena kami sering buat ulah di kelas. Sering mengobrol saat jam belajar sedang berlangsung.
Aku tidak menyangka bahwa ia mengagumiku semenjak kami kelas 7, padahal aku tak pernah sedikitpun tahu siapa dia. Dan aku sangat menyukai caranya mengagumiku.
Lalu pada saat aku SMA, aku mendapatkan coklat (tapi aku tak bisa menyebutnya sebagai pengagum rahasia, karena jelas-jelas ia menggombaliku di depan banyak orang sampai aku ingin muntah jika ia meneruskannya di telpon.) dan sebuah puisi. Dia mahasiswa IKJ yang sampai hari ini sepertinya belum lulus. Tapi aku masukkan ke daftar pengagum rahasiaku (yailah. Bodo amat ah. Dibilang kepedean) karena awalnya ia malu-malu. Diam-diam memperhatikanku. Sampai akhirnya tanpa malu-malu lagi, ia mendekatiku dengan sejuta rayuan maut dan puji-pujian. Bukannya membuat hatiku luluh, aku malah keburu ilfeel terhadapnya. (Maaf Kakak)
Ada pula yang setiap malam menelponku dengan nomor yang sama, atau paling tidak nomor itu mengirimkan sms yang berbunyi. “Aku sangat menyayangimu. Namun aku tahu ini sangat tidak mungkin.” Selalu sama isi sms yang dikirimkan nomor itu. Pernah aku balas smsnya, namun tidak dibalas. Aku pernah menelpon nomor itu, namun tidak diangkat. Karena merasa risih, akupun mengganti nomor handphoneku.
Saat semester satu dulu, aku pernah menemukan sekuntum mawar merah di tasku. Entah dari siapa itu. Aku baru mengetahui bahwa ada bunga mawar di tasku ketika aku sedang mencari uang. Akupun langsung digoda oleh supir angkot yang aku naiki. Katanya, “Ada yang kesengsem tuh sama Neng. Ah, cupu banget tuh orang. Kalo Mamang mah langsung tebak, beres. Mau diterima. Ditolak. Bodo amat. Yang penting mah hati lega. Kagak usah ayam-ayaman gitu.” Aku masih tidak mengerti arti dari ayam-ayaman. Aku Cuma tahu arti dari kucing-kucingan. Mungkin sama kali ya.

Bunga mawar itu aku simpan sampai menghitam, sebelum akhirnya dibuang oleh ibuku. Aku sudah tidak lagi mendapatkan coklat, puisi atau bunga mawar seperti dulu. Mungkin, aku sudah tidak lagi memiliki pengagum rahasia. Dan sekarang, aku menjadi pengagum rahasia untuk orang lain. Setiap orang pasti memiliki pengagum rahasianya masing-masing. Aku sudah memilikinya sewaktu dulu. Namun, terkadang aku sering merasa bahwa diam-diam ada yang memperhatikanku. tapi, enggan mencoba untuk dekat. Ah, mungkin aku terlalu perasa saja. 

Minggu, 30 November 2014

Mata, Cinta, dan Logika



Bagaimana rasanya dikelilingi oleh tatapan mata tajam yang terus mengintimidasimu. Membuatmu merasa serba salah. Kadang kamu merasakan ada yang aneh dari tatapan-tatapan itu. Bukan tatapan tidak suka atau tatapan orang yang jatuh cinta padamu. Tatapan ini berada di tengah-tengah, mereka seperti ingin membunuhmu. Apakah kalian pernah merasakan itu?

Tatapan-tatapan itu selalu lebih lama dari tatapan mata orang pada umumnya, lebih dari 8 detik sebelum mereka menoleh atau berkedip. Aku tak merasakan adanya perasaan benci atau merendahkan dari tatapan-tatapan itu, namun mereka langsung menusuk tepat di mataku. Membuat aku merasa terintimidasi dan kadang serba salah memahami tatapan itu. Apa ada yang aneh denganku, hingga mereka menatapku seperti itu?

Terkadang aku memilih untuk menunduk dan menyerah pada tatapan-tatapan itu. Namun, Aku pernah melihat seseorang yang menatapku lebih dari 8 detik menatap dengan tatapan mata yang kuat dan tajam, namun yang aku rasakan dari tatapan itu adalah perasaan tenang dan damai. Aku seperti tenggelam dalam bola matanya. Setelah itu aku hanya bisa menunduk, bingung. Aku tak pernah lagi mau membalas tatapan matanya. Aku merasakan ada hal lain dari tatapan mata itu, yang tak diketahui siapapun.

Tak pernah ada isyarat ‘aku menyukaimu atau aku membencimu’ dari tatapan mata itu. Ada hal yang terasa mengambang, ada perasaan ragu, malu dan takut dalam tatapan mata itu, tapi selalu ada rasa damai di dalamnya. Itulah tatapan mata yang selalu aku sukai, dari semua mata yang memandangku seperti itu. Matanya bulat besar dan bening. Seperti kristal, mungkin karena mata itu selalu ia basahi setiap hari. Wajahnya tidak putih, namun tak pernah tampak kusam. Wajahnya selalu terlihat bercahaya dan lembab. Aku sangat iri dengan kulitnya yang selalu tampak bersinar dan lembab, mungkin juga ia sangat lembut ketika disentuh.

Mungkin kalian akan berpikir bahwa aku menyukai laki-laki itu, bahwa ia adalah laki-laki yang selalu aku doakan setiap hari. Bukan, bukan sama sekali. Aku tak pernah mendoakannya, aku juga tak pernah mengharapkannya hadir dalam mimpiku. Namun, entahlah ada hal-hal yang tak bisa aku mengerti mengapa aku tak mampu membalas tatapan mata itu. Walaupun, tak pernah sedikitpun hatiku bergetar melihatnya. Aku sangat mengenal diriku sendiri, aku takkan mampu membalas tatapan mata seseorang apabila aku takut, malu, atau merasa bersalah. Tapi, tak ada satupun dari hal itu yang aku rasakan hingga tak mampu membalas tatapan matanya. Entah mengapa, aku selalu memilih menghindar.

Laki-laki yang membuatku jatuh cinta selama ini, hingga membuatku gelisah setiap saat tak mempunyai tatapan mata dan tak pernah menatapku seperti itu. Tatapan matanya selalu keruh dan kulitnya selalu tampak kusam walaupun ia memiliki kulit yang cukup putih untuk seorang laki-laki, mungkin karena ia tak pernah membasahinya seperti laki-laki bermata bening tersebut. Wajahnya selalu tampak layu dan lesu walaupun sedang tersenyum, tatapan matanya selalu lemah dan kadang terlihat kosong walaupun ia sedang tertawa bersama teman-temannya. Kadang aku merasa ia seperti cangkang tanpa penghuni. Namun, entah apa yang membuat aku sangat mencintainya.

Bukan aku membandingkan mereka, aku hanya ingin berpikir secara logika. Seharusnya jika aku bisa berpikir menggunakan logikaku, aku akan jatuh cinta pada laki-laki bermata bening itu. Harusnya hatiku akan bergetar setiap kali ia menatapku, dan seharusnya ia membuat aku malu dan salah tingkah setiap kali mata kami tak sengaja bertemu. Seharusnya seperti itu.

Namun kenyataannya, tatapan mata yang membuatku jatuh cinta selalu membuatku malu dan salah tingkah walaupun ia hanya melihatku sekilas dengan tatapan kosong dan tak acuh. Terkadang aku berpikir untuk berhenti seperti ini, mencintai diam-diam, mengaguminya sepanjangan tanpa ia tahu bahwa aku diam-diam memikirkan apa yang ia sedang lakukan, mengulang setiap adegan saat mata kami tak sengaja bertemu. Tapi aku sangat tahu, bahwa aku takkan bisa berhenti dan lebih dari ini. Aku sangat mengenal diriku, ketika hatiku memilih maka pikiranku akan meminta. Terkadang aku merasa sangat bodoh, karena beberapa kali menyia-nyiakan laki-laki yang datang memintaku. Dan memilih untuk terus mencintainya diam-diam. Tapi, aku menegaskan diriku kembali. Bahwa hatiku tak pernah memilih mereka sehingga pikiranku juga tak akan meminta untuk memikirkan mereka. Hatiku belum memilih berhenti dan pikiranku belum meminta agar aku berhenti memikirkannya.

Begitu rumitnya konstruksi batin manusia, mereka tak akan pernah berkoordinasi jika hati tak pernah memilih. Logika tak mampu menjelaskan betapa rumitnya cinta, yang lebih kompleks dari masalah apapun. Kenyataannya, logika tak banyak berperan dalam hal cinta. Ada hal yang tak pernah bisa dipecahkan oleh logika, misalnya: Mengapa aku harus jatuh cinta pada si A padahal aku sangat tahu bahwa dulu si B sangat mencintaiku, namun aku abaikan. Dan si C jatuh cinta setengah mati pada B dan A jatuh cinta pada si C, namun akhirnya B dan C menjalin hubungan, dan sudah cukup lama. Sedangkan aku dan A, ya Cuma begin-begini saja. Tak pernah ada kemajuan. A bingung harus bagaimana karena aku bukan yang diinginkannya, yang ia inginkan Cuma si C. Aku dan B tetap berteman, hingga sekarang. Lalu, datang si D dan E yang datang padaku, dan berkata bahwa mereka menyukaiku. Namun, aku abaikan mereka. Lalu datang F yang sering terlihat diam-diam sedang memandangiku. Dan A yang terus modus kesana kemari, mencari sandaran hati kadang membuat aku cemburu setengah mati. Padahal tak ada apa-apa di antara kami. Lalu, teman baikku. Si G yang selalu memberikanku tatapan teduh penuh makna dan diam-diam memperhatikan segala yang terjadi padaku, namun ini hanya sekedar pertemanan. Aku dan G sering menghabiskan waktu bersama, sampai-sampai si D, E dan F, menyangka bahwa kami berpacaran. G menyukai gadis bernama H, dan H berpacaran dengan I. Ada orang lain yang menyukai H bernama J, G dan J akhirnya bersaing merebut perhatian H. Padahal J sudah mempunyai pacar. Teman-teman G tidak menyukai G bersaing dengan J untuk mendapatkan hati H, apalagi sampai saling menjelekan. Karena teman-teman G menyukai J. Jadi karena merasa kami mengalami kasus cinta yang rumit, maka kami menjadi tempat untuk saling berbagi curhat. Lalu datang K yang membuat aku tak berani membalas tatapan matanya –seperti yang aku ceritakan diatas, bahwa ia memiliki mata yang bening- ketika mata kami tak sengaja saling bertemu. Dan K adalah orang yang cukup terkenal dan –bisa dibilang- memiliki banyak penggemar. 

Entah berapa banyak nama lagi yang nanti akan terlibat dalam kasus ini. Ini hanya salah satu contoh kompleksnya urusan cinta. Logika tak berperan dalam kasus ini, kami sama-sama saling tak mengerti mengapa semua ini terjadi. Karena dari masing-masing kami, hati kamilah yang memilih dan pikiran kami meminta. Yang bisa kami lakukan hanya, tertawa sendiri dan menangis sendiri untuk hal yang kami tak mengerti sama sekali, dan terus berkata mengapa harus seperti ini. Sensasi yang sama seperti saat kami sekolah dulu. Berdiri seperti orang bodoh dan bingung memecahkan hitungan logaritma di depan kelas. Dan seperti lagu Agnes Monica bahwa cinta ini, kadang-kadang tak ada logika.